Senin, 05 Juni 2017

Pelarian seorang TKW




Hai Jacki Musyafir
Apa kabar?

Tak henti-hentinya jiwaku selalu menggelora mengirimkan surat kepada dirimu, Patjar Imaji. sudah kau bacakah surat terdahuluku.? 
pasti belum. yah.. pasti. karena kau jelas tak ada. 
Jack. sebuah nama seperti sebuah ilham yang jatuh di dalam mimpi, dan aku menyematkannya pada sebuah sosok imajinasiku. 
Tapi di bulan Ramadhan ini, aku akan sedikit mengubah namamu, menjadi lebih ke-islamia. Seperti Muhammad Jack, atau Jack Mustafa, atau Jacki  Musyafir. yah. pantas. Karena kita akan selalu berkelana.  

Saat ini aku sedang berada di Kota, dimana pertama kali kita bertemu (dalam khayal). Dan tak sengaja saat di kota, aku bertemu Gea temanku semasa di Asrama penampungan TKW. Tak sengaja, kami berpapasan di Mall, saat memilih-milih sepatu. Ghea masih sangat cantik, saat terakhir kami bertemu ia tak berubah, cara berbicaranya, aku suka. Bagaimana cara ia mengeluarkan kata-kata sangat tersusun dengan rapi, dengan bahasa Indonesianya yang sangat baku, dan sesekali menggunakan bahasa Inggris.  Tak di sangka Ia sudah sangat fasih berbahasa Inggris dan bahasa Arab, sepulangnya dari Mesir. Sungguh ia tak pantas untuk menjadi TKW, ia sangat pantas menjadi kepala dinas atau semacamlah, hal ini juga di dukung dari penampilannya yang rapi dan apik.

Sekonyong-konyongnya Gea berbicara panjang lebar tentang pengalamannya saat berada di mesir selama dua tahun. Awalanya ia sangat bahagia tinggal dengan majikan barunya sebab ia mendapatkan gaji yang cukup tinggi di banding saat ia bekerja di Indonesia. itulah mengapa banyak perempuan Indonesia memilih untuk menjadi TKW, sebab gaji di Indonesia sangat sedikit dan bahkan tidak di bayar entah itu gaji oembantu rumah tangga atau gaji buruh di perusahaan, dan kadang mendapatkan kekerasan di lingkup perusahaan atau bahkan majikan itu sendiri, bahkan mirisnya lagi pemerintah tidak peduli dengan tindakan kriminal yang di alami perempuan Buruh.

Saat di Mesir Gea kadang di siksa oleh majikan bila pekerjaannya belum selesai, atau bila anak sang majikan menangis minta susu, dan kadang ia di siksa lantaran di tuduh mencuri, atau di siksa lantaran di tuduh berselingkuh dengan suami majikannya. Penyiksaannya itu berupa pengurangan jatah makanan, dan kadang ia di cambuk, akibat tuduhan perselingkuhan dan itu adalah zina, sebagaimanapun dayanya ia membela diri, namun apa daya tetap saja cambukan demi cambukan itiu melayang di punggungnya. Ia berusaha menahan diri selama setahun tinggal bersama majikannya, sebagai upaya jalan ia dapat  berkomunikasi dengan teman-teman TKW dari Indonesia bila ada kunjungan dari KBRI.  Dalam kesempatan itu ia berusaha melaporkan kejadian yang di alamiya, namun apa daya pihak KBRI tidak menindak lanjuti karena mengangap bahwa masalah itu tidak benar adanya, lantaran pihak Majikan tidak pernah mengakui hal tersebut. 

Hal yang membuat ia terus bertahan selama setahun tinggal di rumah majikan itu adalah gajinya tak pernah tidak dibayarkan, ia selalu menerima gaji penuh walaupn gaji tersebut tidak dapat menghapus penderitaanya. Itu semua ia lakukan bukan lain karena alasan kedua orang tuanya yang sudah sepuh di kampung dan anak semata wayangnya, yang semakin besar dan semakin membutuhkan biaya yang sangat tinggi. 

Namun setelah setahun mengabdi menjadi pembantu rumah tangga di luar negeri atau buruh imigran, ia tak tahan lagi, dengan perlakuan sikap majikannya yang semakin menjadi-jadi, semakin menuduhnya berselingkuh dengan suaminya, ia semakin di siksa, tidak hanya kekerasan verbal, tetapi sudah sampai pada kekerasan fisik yang harus mendapatkan penanggulangan medis, ia kemudian mengalami cacat pada bagian vaginanya, entah bagaimana manjikannya memperlakukannya dengan sangat keji dan beringas bagai binatang. Dimasukannya suatu benda ke dalam vaginanya ke mudian benda tersebut gonjang-ganjing, sampai merusak alat reproduksi Gea. Pilu.

 Ia tak bisa berbuat apa-apa setelah kejadian itu, dunia menjadi gelap, dan hanya rasa sakit yang ia rasakan sampai ingatannya menghilang.
 
Setahun ia berada di rumah temannya, setelah pelariannya dari rumah sakit. Setelah ia mendengar perbincangan antara majikannya dan salah satu orang yang tak di kenalnya di balik pintu rumah sakit. Bahwa tak ada yang mau meyelesaikan administrasi rumah sakit. Ia hanya bisa meratap dan mengumpulkan semangat hidupnya untuk bisa  kembali kekampung halaman dan berkumpul dengan keluarga dan anak tercintanya. 

Teman yang sangat baik,  merawat Gea sampai benar-benar sembuh. Namun sungguh tak di sangka sama sekali Gea kemudian dimanfaatkan oleh temanya sendiri, ia kemudian di jual pada seroang Germo yang memiliki bar yang besar di Indonesia, ia di berikan izin untuk pulang ke kampung halaman, dan dijanjikan akan diberikan biaya asalkan ia mau bekerja pada Germo tersebut selama setahun, sebagai belas jasa  ketika ia di rawat, yang menggunakan sepenuhnya biaya dari Germo tersebut menurut pengakuan Sita. Teman Gea yang merawatnya selama masa pemulihan. 

Setibanya di Indonesia, tak ada kata yang tak bahagia selain mengucapkan kata syukur, karena telah terbebas dari belenggu majikan yang keji dan laknat, namun teringat lagi janjinya akan belas jasa pada Ibu Poni  yang telah membiayai perawatannya selama masa penyembuhan. Kelam. Matahari pun semakin gelap di tanah Jakarta, negeri tak seindah dari lagu-lagu yang semasa kecil di nyanyikannya, negeri kita yang elok dan amat subur, namun nyatanya semakin mengerikan, keserakahan dimana-mana, kekerasan dan kriminalisasi dimana-mana, dan Gea menjadi salah satu dari semua korban keserakahan yang terjadi di Negeri ini, karena semua dari kita adalah korban dari keserakahan. 

Malam dimana Gea mulai  bekerja, setelah bertemu  dengan Ibu Poni dn membicarakan mengenai hak dan kewajibannya sebagai pekerja seks. Ia kemudian diarahkan   untuk menemui pelanggan pertamanya di hotel Purnama. 

Purnama di atas ibu kota Jakarta seakan murung melihat ia hendak beranjak di atas motor yang berliku di antara kemacetan, menuju Hotel Purnama, tanpa sadar. “hai Purnama masih ingatkah kau, saat pertama kali kau menyapa diriku begitu mesra.  Saat itu  aku merasa begitu dekat dengan cinta”.  
 
Ya... ampun  Jacki Musyafir. Aku benar-benar telah keasyikan menuliskan kisah Gea, bukan bermaksud untuk mengurangi pahala puasa kita di bulan Ramadhan ini, lantaran menceritakan aib seseorang. Namun kisah ini aku anggap sangat penting untuk diceritakan kepadamu, agar kau tahu, dan dunia tahu bahwa penindasan serta keserakahan terjadi dimana-mana, bahkan terlalu banyak bila diceritakan.  Dan semoga keadilan datang pada kami, orang-orang yang tertindas secara kultur maupun secara struktural, dan semoga pemerintah tidak hanya menonton kisah-kisah perih seperti ini.

Dan akhirnya cerita selanjtunya akan ada di surat cinta kita. Karena cintaku selalu lahir dari keluarga, maka saatnya untuk mempersiapkan makanan untuk sahur. Selamat menuaikan ibadah puasa. Patjar Imajiku. Selalu Cinta Tanah Air.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bersekolah di Masa Pandemi

 Setalah hampir dua tahun sekolah diliburkan akibat covid, akhirnya pada  senin 30 Agustus 2021 sekolah kembali dibuka untuk wilayah Tojo Un...