Hai Jacki Musyafir
Apa kabar?
Tak henti-hentinya jiwaku selalu menggelora mengirimkan surat kepada dirimu, Patjar Imaji. sudah kau bacakah surat terdahuluku.?
pasti belum. yah.. pasti. karena kau jelas tak ada.
Jack. sebuah nama seperti sebuah ilham yang jatuh di dalam mimpi, dan aku menyematkannya pada sebuah sosok imajinasiku.
Tapi di bulan Ramadhan ini, aku akan sedikit mengubah namamu, menjadi lebih ke-islamia. Seperti Muhammad Jack, atau Jack Mustafa, atau Jacki Musyafir. yah. pantas. Karena kita akan selalu berkelana.
Saat ini aku sedang berada di Kota, dimana pertama kali kita bertemu (dalam khayal). Dan tak sengaja saat di kota, aku
bertemu Gea temanku semasa di Asrama penampungan TKW. Tak sengaja, kami
berpapasan di Mall, saat memilih-milih sepatu. Ghea masih sangat cantik, saat
terakhir kami bertemu ia tak berubah, cara berbicaranya, aku suka. Bagaimana
cara ia mengeluarkan kata-kata sangat tersusun dengan rapi, dengan bahasa
Indonesianya yang sangat baku, dan sesekali menggunakan bahasa Inggris. Tak di sangka Ia sudah sangat fasih berbahasa
Inggris dan bahasa Arab, sepulangnya dari Mesir. Sungguh ia tak pantas untuk
menjadi TKW, ia sangat pantas menjadi kepala dinas atau semacamlah, hal ini
juga di dukung dari penampilannya yang rapi dan apik.
Sekonyong-konyongnya Gea
berbicara panjang lebar tentang pengalamannya saat berada di mesir selama dua
tahun. Awalanya ia sangat bahagia tinggal dengan majikan barunya sebab ia
mendapatkan gaji yang cukup tinggi di banding saat ia bekerja di Indonesia.
itulah mengapa banyak perempuan Indonesia memilih untuk menjadi TKW, sebab gaji
di Indonesia sangat sedikit dan bahkan tidak di bayar entah itu gaji oembantu
rumah tangga atau gaji buruh di perusahaan, dan kadang mendapatkan kekerasan di
lingkup perusahaan atau bahkan majikan itu sendiri, bahkan mirisnya lagi
pemerintah tidak peduli dengan tindakan kriminal yang di alami perempuan Buruh.
Saat di Mesir Gea kadang di siksa
oleh majikan bila pekerjaannya belum selesai, atau bila anak sang majikan
menangis minta susu, dan kadang ia di siksa lantaran di tuduh mencuri, atau di
siksa lantaran di tuduh berselingkuh dengan suami majikannya. Penyiksaannya itu
berupa pengurangan jatah makanan, dan kadang ia di cambuk, akibat tuduhan
perselingkuhan dan itu adalah zina, sebagaimanapun dayanya ia membela diri,
namun apa daya tetap saja cambukan demi cambukan itiu melayang di punggungnya.
Ia berusaha menahan diri selama setahun tinggal bersama majikannya, sebagai
upaya jalan ia dapat berkomunikasi
dengan teman-teman TKW dari Indonesia bila ada kunjungan dari KBRI. Dalam kesempatan itu ia berusaha melaporkan
kejadian yang di alamiya, namun apa daya pihak KBRI tidak menindak lanjuti
karena mengangap bahwa masalah itu tidak benar adanya, lantaran pihak Majikan
tidak pernah mengakui hal tersebut.
Hal yang membuat ia terus
bertahan selama setahun tinggal di rumah majikan itu adalah gajinya tak pernah
tidak dibayarkan, ia selalu menerima gaji penuh walaupn gaji tersebut tidak
dapat menghapus penderitaanya. Itu semua ia lakukan bukan lain karena alasan
kedua orang tuanya yang sudah sepuh di kampung dan anak semata wayangnya, yang
semakin besar dan semakin membutuhkan biaya yang sangat tinggi.
Namun setelah setahun mengabdi
menjadi pembantu rumah tangga di luar negeri atau buruh imigran, ia tak tahan
lagi, dengan perlakuan sikap majikannya yang semakin menjadi-jadi, semakin
menuduhnya berselingkuh dengan suaminya, ia semakin di siksa, tidak hanya
kekerasan verbal, tetapi sudah sampai pada kekerasan fisik yang harus
mendapatkan penanggulangan medis, ia kemudian mengalami cacat pada bagian
vaginanya, entah bagaimana manjikannya memperlakukannya dengan sangat keji dan
beringas bagai binatang. Dimasukannya suatu benda ke dalam vaginanya ke mudian
benda tersebut gonjang-ganjing, sampai merusak alat reproduksi Gea. Pilu.
Ia tak bisa berbuat apa-apa setelah kejadian itu, dunia menjadi gelap, dan hanya rasa sakit yang ia rasakan sampai ingatannya menghilang.
Setahun ia berada di rumah
temannya, setelah pelariannya dari rumah sakit. Setelah ia mendengar
perbincangan antara majikannya dan salah satu orang yang tak di kenalnya di
balik pintu rumah sakit. Bahwa tak ada yang mau meyelesaikan administrasi rumah
sakit. Ia hanya bisa meratap dan mengumpulkan semangat hidupnya untuk bisa kembali kekampung halaman dan berkumpul
dengan keluarga dan anak tercintanya.
Teman yang sangat baik, merawat Gea sampai benar-benar sembuh. Namun
sungguh tak di sangka sama sekali Gea kemudian dimanfaatkan oleh temanya
sendiri, ia kemudian di jual pada seroang Germo yang memiliki bar yang besar di
Indonesia, ia di berikan izin untuk pulang ke kampung halaman, dan dijanjikan
akan diberikan biaya asalkan ia mau bekerja pada Germo tersebut selama setahun,
sebagai belas jasa ketika ia di rawat,
yang menggunakan sepenuhnya biaya dari Germo tersebut menurut pengakuan Sita.
Teman Gea yang merawatnya selama masa pemulihan.
Setibanya di Indonesia, tak ada
kata yang tak bahagia selain mengucapkan kata syukur, karena telah terbebas dari
belenggu majikan yang keji dan laknat, namun teringat lagi janjinya akan belas
jasa pada Ibu Poni yang telah membiayai
perawatannya selama masa penyembuhan. Kelam. Matahari pun semakin gelap di
tanah Jakarta, negeri tak seindah dari lagu-lagu yang semasa kecil di
nyanyikannya, negeri kita yang elok dan amat subur, namun nyatanya semakin mengerikan,
keserakahan dimana-mana, kekerasan dan kriminalisasi dimana-mana, dan Gea
menjadi salah satu dari semua korban keserakahan yang terjadi di Negeri ini,
karena semua dari kita adalah korban dari keserakahan.
Malam dimana Gea mulai bekerja, setelah bertemu dengan Ibu Poni dn membicarakan mengenai hak
dan kewajibannya sebagai pekerja seks. Ia kemudian diarahkan untuk menemui pelanggan pertamanya di hotel
Purnama.
Purnama di atas ibu kota Jakarta
seakan murung melihat ia hendak beranjak di atas motor yang berliku di antara
kemacetan, menuju Hotel Purnama, tanpa sadar. “hai Purnama masih ingatkah kau,
saat pertama kali kau menyapa diriku begitu mesra. Saat itu
aku merasa begitu dekat dengan cinta”.
Ya... ampun Jacki Musyafir. Aku benar-benar telah keasyikan
menuliskan kisah Gea, bukan bermaksud untuk mengurangi pahala puasa kita di
bulan Ramadhan ini, lantaran menceritakan aib seseorang. Namun kisah ini aku
anggap sangat penting untuk diceritakan kepadamu, agar kau tahu, dan dunia tahu
bahwa penindasan serta keserakahan terjadi dimana-mana, bahkan terlalu banyak
bila diceritakan. Dan semoga keadilan
datang pada kami, orang-orang yang tertindas secara kultur maupun secara struktural,
dan semoga pemerintah tidak hanya menonton kisah-kisah perih seperti ini.
Dan akhirnya cerita selanjtunya
akan ada di surat cinta kita. Karena cintaku selalu lahir dari keluarga, maka
saatnya untuk mempersiapkan makanan untuk sahur. Selamat menuaikan ibadah
puasa. Patjar Imajiku. Selalu Cinta Tanah Air.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar