Tampilkan postingan dengan label Beranda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beranda. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Mei 2017

Menunggu jam 12.00 Wita

Ahmad Sya'ban Maulana

Menunggu jam 12.00

Sudah dua hari ini Ahmad menjalankan ibadah puasa. Dengan semangat ia bangun sahur tanpa di bangunkan, menjalankan sholat Tarawih, sholat lima waktu, meskipun kadang lupa karena keasyikan bermain.

Hari ini adalah  hari Senin. Dimana anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah negeri tetap harus sekolah meskipun dalam keadaan puasa. Ahmad yang dengan semangat barunya di bulan Ramadhan dengan sigap menjalani hari-harinya bersekolah dalam keadaan berpuasa. Ahmad yang masih duduk di kelas satu SD ini berangkat kesekolah dengan niat akan menyelesaikan ulangan dengan nilai yang bagus, dan menyelesaikan puasanya sampai sore hari.

Cerita di hari pertama Puasa.

Hari pertama puasa, ia menangis, merengek, minta dimandikan, karena beranggapan bila mandi dapat menghilangkan dahaga. Tanpa berpikir panjang Ahmad lalu menceburkan badannya ke dalam bak mandi, yang baru saja dibersihkan oleh Bunda.

Selesai mandi rasa lapar dan dahaga pun tak kunjung hilang. Malah semakin menjadi-jadi. Sesekali ia menengok ke jam dinding dan bertanya pada ku. “Bunda sudah jam berapa ini?”. Berharap waktu berbuka akan segera tiba. Dan ia terbebas dari belenggu lapar dan haus.

Ahmad yang tidak lagi tahan di gerogoti rasa lapar dan haus, sesekali datang merayuku, “bunda bisakan jamnya di percepat?” tanyanya lagi. Tak sabar.  
“Loh.. kan masih siang? Kenapa jam mesti di percepat?”
“Ahmad mau buka jam 12.00 hari ini, besok lagi puasa buka jam 12.00 jadi satu hari kan?”

 ***
Sepulang sekolah dengan wajah sumringah agak sedikit layu. Ahmad berlari menghampiri. “Bunda sudah jam berapa?” seperti menunggu hujan yang jatuh setelah musim kemarau berkepanjangan. Masih jam 11.00 wita jawabku. Memberikan motivasi agar Ahmad mampu tahan sampai sore.
“Bunda lama sekali jam 12.00. Ahmad mulai mengeluh.

"Ahmad, soal puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kita untuk bersabar.  Tidak marah-marah, apalagi menangis. saling berbagi dan berbuat banyak kebaikan". masa Ahmad tidak makan seharian karena bermain seharian bisa menahan lapar, puasa yang makan di saat sahur tidak bisa manahan lapar sampai sore?" 

Ahmad kan mau jadi muslim Gaul? 
Muslim Gaul itu tidak hanya sekedar gaul, pergi sholat di mesjid, naik sepeda di saat subuh, tapi juga harus sabar, dan saling berbagi antar umat beragama.  Saling menghargai dan bertenggang rasa sesama umat manusia, saling membantu tanpa membedakan agama, suku, budaya dll.
  


oh. iya ya bunda. 
kan ada di buku.  
baca lagi dong bunda..

iya.. tapi puasanya harus full samai pukul 06.00 sore yah..

iya.. iya..   


Tetap semangat..
Semoga tahan sampai sore yah.. Nak...




Selasa, 28 Maret 2017

Tenggelam

Banggai, 17 Februari 2017




Senja di Rezeki Baru
Ku tinggalkan semua resahku di pelabuhan Banggai
Ku bawah resah itu mengelilingi Pulau
Resah yang ku buat sendiri
Resah yang mungkin tak akan pernah hilang
Kuntinggalkan semua rindu di Pelabuhan Banggai
Biarkan tenggelam bersama ombak
Ku rindu benar-benar rindu
Tak ada yang bisa menghapusnya
Meski di terjang ombak,
Tenggelam, menjadi pasir
Ku tetap resah dalam penat.

BISU


Palu, 19 Januari 2017






Menuju malam..
Rindu tak bertepi..
Hanya sekedar ingin melihatmu bersama malam, kala pagi datang.
Kita pergi, dan hilang di sapu matahari.
Mari teguk kopi.
Menjelma, bisu, hilang dan mati.

Harapan



Puisiku
Harapan

Poso, 30 Oktober 2016
21.20



Aku pernah berfikir tentang bagaimna cara siang meninggalkan malam.
Dan malam yang selalu meninggalkan siang. 
Mereka tak pernah berjalan beriringan.
Tentang perempuan dan laki2 yg di ciptakan berbeda beda. 
Tentang pagi yg tak pernah bertemu senja. 
Tentang pelangi yg enggan datang pada saat hujan trun dan matahari bersinar.
Aku cemburu pada lautan yg selalu setia menunggu datangnya  sungai. 
Sayang.. kita memang berbeda. 
Tapi maukah kau menjadi laut, yg selalu membuka lebar dirinya kepada sungai.??

ASA


Banggai, 09 Februari 2017, 5:24





Sudah ku hapus semua kontak dan kenangan tentang kita...
Aku tak bisa membuat puisi, sebab aku tahu kaulah puisi itu.
aku tak bisa mendeskripsikan rindu, karena kaulah rindu itu.
Biarlah aku menikmati laut, senja, bersama imaji.
Menunggu kekasih yg di pergi bersama ombak..

BERBAGI PENGETAHUAN DENGAN CINTA


"Cerita Kita, tentang  Kampung, Harapan dan Cita-cita"

Cerita dari Desa Betaua


Datang dan pergi bersama kabut. Begitulah situasi cuaca yang menyambut kedatangan kakak-kakak Sahabat Pulau Palu saat memasuki desa Betaua, kepulangan mereka pun demikian. Dalam kabut, Bus yang mereka tumpangi perlahan meninggalkan kami yang masih berdiri di jalan raya melepas kepergian kakak-kakak yang kece, dan baik hati.  


 Kakak-kakak Sahabat Pulau sedang menjelaskan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat di Sekolah Dasar Negeri Betaua.

Kedatangan Komunitas Sahabat Pulau Palu di Desa Betaua pada 23-25 Desember 2016, membawa energi positif bagi masyarakat desa Betaua. Dari serangkaian kegiatan yang positif tersebut mereka juga membagikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi anak-anak, perempuan serta masyarakat desa Betaua, yang sampai sekarang masih menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat.
                                   
Bagaimana tidak, setelah mengikuti pelatihan yang di fasilitasi oleh Komunitas Sahabat Pulau, ibu-ibu sangat antusias untuk meneruskan dan mengembangkan ilmu yang mereka dapatkan saat pelatihan. Salah satu ilmu yang sudah dikembangkan dari hasil kunjungan tersebut adalah pembuatan keripik bawang.

Tepat pada tanggal 12 Februari melalui akun facebooknya Ibu kepala desa memasarkan keripik bawang hasil buatan ibu-ibu PKK, yang dikerjakan secara bersama-sama dan di kemas pula dengan kemasan pemberian dari sahabat Pulau Palu, sebagai bentuk semangat agar ibu-ibu terus meneruskan usaha tersebut.

 Ibu-ibu PKK sedang membuat dan mengemas keripik bawang.
(Sumber akun facebook Ibu Ernawati).

Menurut Bapak kepala desa, bahwa hasil dari penjualan kripik bawang itu sekitar Rp. 800.000 yang akan menjadi tabungan serta modal awal bagi ibu-ibu PKK untuk dapat terus mengembangkan produk keripik bawang tersebut.

Tidak hanya itu kepala desa juga mengungkapkan, bahwa usaha home industri ibu-ibu PKK Betaua akan bekerja sama dengan BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) dan
DEKRANASDA (Dewan Kerajinan Nasional Daerah)   Kabupaten Tojo Una-una. Semangat pemerintah desa Betaua dalam mengembangkan usaha ini tak luput dengan cita-cita pemerintah desa untuk mensejahterakan masyarakatnya khusunya perempuan, yang di anggap memiliki potensi untuk berkembang namun terkendala dalam hal kreatifitas dan modal. Seperti yang dicita-citakan oleh Komunitas Sahabat Pulau Palu, yakni mencerdaskan dan mensejahterakan bangsa.

Betaua yang termasuk salah satu desa yang memproduksi bawang di Kabupaten Tojo Una-una tidak hanya sampai pada produksi bawang menjadi kripik, tapi juga mendorong agar desa Betaua menjadi desa yang mandiri secara ekonomi di sektor pertanian bawang secara Nasional.

Di kalangan anak-anak kehadiran Sahabat Pulau Palu benar-benar mendapatkan tempat yang baik di hati mereka. Setelah kepergian kakak-kakak SP kami membuat pertemuan membaca setiap seminggu sekali di luar ruangan, di halaman sekolah, di kebun, di pasar dll. Buku-buku yang kami baca adalah buku-buku pemberian dari kakak-kakak Sahabat Pulau, yang tidak hanya sebatas membaca tetapi kemudian kami mendiskusikan apa yang telah kami baca bersama.


Kegiatan penanaman pohon di lapangan Betaua
Salah satu yang menjadi pembahasan kami adalah mengenai pohon, seperti yang sudah kakak-kakak SP jelaskan pada kali pertama petemuan tentang fungsi Pohon dan mengapa pohon menjadi penting. Tak menyangka setelah sebulan pasca menerima pengetahuan mengenai pohon, anak-anak masih mengingat ilmu tentang apa dan bagaimana fungsi pohon yang disampaikan oleh Kakak Agus sebelum melakukan penanaman pohon.
 
Demikian pula mengenai apa fungsi mangrove yang dijelaskan oleh Kak Muzi saat penanaman mangrove di pantai. Sehingga sangat membantu membangun kesadaran kritis anak-anak mengenai mengapa pohon penting untuk di tanam, di rawat, dan di jaga.

Maka dari itu pohon yang di tanam di lapangan Desa Betaua di jaga, tidak hanya oleh anak-anak juga masyarakat Betaua. Mereka melindungi pohon yang sudah di tanam bersama-sama kakak-kakak Sahabat Pulau, dengan memagari agar tidak di makan oleh sapi dan kambing. Setiap hari tanpa diingatkan anak-anak selalu menyirami pohon yang sudah jauh-jauh di bawah oleh kakak-kakak Sahabat Pulau Palu tersebut.

 
Anak-anak desa Betaua sangat terinspirasi pada cita-cita dan semangat kakak-kakak Sahabat Pulau yang sangat besar. Semangat tersebut mereka tuangkan dalam sebuah surat. Surat ini terinspirasi dari cerita kak Windha tentang cita-citanya yang sangat tinggi pada empat orang anak di bawah pohon mangga siang itu sebelum keberangkatan balik ke Palu.
 
Kakak Windha sedang menjelaskan tentang pentingnya menjaga kebersihan kuku

Salah satunya adalah Uwam, anak laki-laki yang berusia 9 tahun. Siang itu, pasca keberangkatan Kakak-kakak Sahabat Pulau ke Palu. Ketika saya sedang memarkir sepeda motor di bawah pohon mangga, seorang anak menyapaku dengan begitu semangat. 

"Kak Rara sudah saya buat surat buat kak Windha. Terus mau di kirim lewat mana?" tanya Uwam. Kemudian ia berlari menuju rumahnya dan kembali dengan selebar kertas putih ditangannya. Diserahkannyalah kertas itu padaku 

‘O.. ini surat Uwam, pintar sekali Uwam membuat surat," Kataku pada Uwam yang saat itu masih berdiri disampingku.

Surat tanpa amplop itu dilipatnya dengan sangat rapi. Di atasnya tertulis dari Uwam, buat Kak Windha. 

“Kata kak Windha saya akan diberikan hadiah. Lantas bagaimana cara mengirimkan hadiahnya? Apa mungkin bisa lewat Internet?"  Uwam kembali bertanya. Kali ini dengan wajah yang semakin tampak bingung karena kataku surat Uwam akan dikrim melalui internet.

Uwam terinspirasi menuliskan surat kepada kak Windha, lantaran siang itu ia mendengar kisah Kak Winda yang bertemu dengan pengisi suara film Naruto hanya karena menuliskan surat sebagai penggemar Naruto, juga diyakinkan dengan foto yang diperlihatkan Kak Windha kepada Uwam dan teman-temannya. Dari perbincangan itu mereka berjanji akan saling berbalas surat, dan kak Windha Akan membalas surat Uwam di sertai dengan hadiah.

Begini isi surat Uwam..

Buat Kak Winda..

Aku setiap sore bermain takraw, dan aku suka sekali bermain bersama para sahabat sejatiku. Aku suka membaca dan menulis, dan aku bangga bisa sekolah. Aku suka menanam pohon, buah-buahan, dan umbi-umbian. Aku juga suka memelihara hewan seperti ayam. Dulu aku sering kali menyapu halaman rumahku, agar terlihat indah dan tidak ada kotoran yang menumpuk seperti bungkusan permen dan tempat minuman.

Aku juga suka menonton film sinetron anak jalanan dan film naruto. Aku bangga mempunyai cita-cita. Oh. Iya nama asliku Nurham.

Betaua, 25 Desember 2016.

Nurham atau Uwam.

Demikianlah secarik surat Uwam yang ditujukan kepada kakak Windha. Sebelum surat ini lahir, di bawah pohon mangga yang rindang telah terjadi perbincangan antara kami, yakni Kak Muzi dan kak Windha, Mustafa, Uwam, dan dua temannya.


Kakak Windha dan Kakak Muzi  (Betaua, 25/12/2016)

 "O.. iya nanti kalau kalian mengirim surat akan kakak Windha balas suratnya dan akan kak Windha berikan hadiah," kata Kak Windha kepada ke empat anak tersebut  siang itu.

"Nanti yang ditulis tentang kegiatan sehari-hari dan tentang lingkungan yah.." 
kak Windha menimpali.

Selain itu pula Kak Windha juga menjelaskan tentang bagaimana pentingnya menjaga kesehatan dengan cara selalu memotong kuku yang sudah panjang. Sembari kak Windha memberikan contoh dengan memperlihatkan kukunya yang nampak bersih dan mengkilat, begitu juga kak Muzi yang tak mau kalah juga memperilhatkan kuku-kukunya.

"Kalian jangan lupa potong kuku yah, agar kuman-kuman tidak masuk ke perut yang akan mengakibatkan cacingan." Tutur Windha yang hendak beranjak dari tempat duduknya. Karena bus yang mereka tumpangi akan segera berangkat.
"Ah.. nanti kalau kita berkirim surat lewat mana?" Tanya Uwam dengan wajah bingung. 

"Nanti surat kamu diberikan sama kak Rara yah Uwam, dan oleh kak Rara akan kirim lewat email." Jawab Kak Windha. 

Uwam pun semakin kebingungan tentang internet dan email. (Pembelajaran menganai IT akan menjadi pembelajaran kita pada pertemuan selanjutnya).

Betaua, 7 Januari 2017. Petang hari kami kembali membaca dan membahas mengenai surat menyurat. Aco, Munif, Fadli, Arul, Iman, Via dan anak-anak yang lainnya mengutarakan keinginan mereka untuk menulis surat. Semangat menulis surat ini rupanya terpengaruh dari Uwam. Sehingga mereka mulai terpanggil untuk menuliskan surat yang berisikan kegiatan sehari-hari, dan harapan serta cita-cita, seperti yang terdapat di majalah Bobo dan Kuark yang kami baca.

Kegiatan membaca.
Lokasi Pasar desa Betaua.

Dampak positif dari kedatangan Sahabat Pulau Palu di desa kami, tidak hanya bercerita tentang Pohon. Kakak-kakak Sahabat Pulau juga mengajarkan bagaimana cara membedakan antara sampah organik dan sampah non organik serta cara pengelolaan sampah basah dan kering, sampai pada bagaimana cara pengelolaan sampah kering sehingga menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat.

Pun mengenai bagaimana menjaga kesehatan dengan mencuci tangan dengan baik dan benar, menggunakan sabun dan harus di air yang mengalir, menjadi materi yang sangat manarik dalam kunjungan sahabat Pulau Palu yang hanya dua hari di desa Kami.

Sampai disini dulu yah kak surat kami. Satu hal yang ingin kami sampaikan, pengalaman serta ilmu yang bermanfaat ini, tak akan kami lupakan, juga akan selalu kami praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, sehat selalu kakak-kakak sahabat Pulau Palu. Semoga semesta dapat mempertemukan kita semua dalam keadaan sehat, sehingga kita bisa berenang dan senam sehat bersama kembali yah, kak. Oh iya.. sekarang sedang musim kelapa muda loh.. 

Gambar V. Penutupan dan Foto Bersama kepala Desa Betaua 


Sampai Jumpa











Senin, 27 Maret 2017

Tentang Saya


Saya lahir di  desa Pusungi. Sebuah desa yang terletak di kawasan  Tanjung Api, teluk Tomini.  Tanjung Api adalah  kawasan yang memiliki gas api yang sangat tinggi di Sulawesi Tengah. Kawasan ini terletak di kabupaten Tojo Una-una. Dulu lokasi ini adalah hutan Cagar Alam Tanjung Api, dgn luas 4. 246 ha. Berdasarkan SK Menteri Pertanian No 91 tahun 1977 tanggal 21 Februari[1]. Ditetapkan sebagai CA Tanjung Api Sulawesi Tengah, sebagai perlindungan pada api alam dan gua air. Yang pada tahun 2006 kawasan Cagar Alam Tanjung Api ditetapkan  menjadi Bandara Tanjung Api.

Saya teringat ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Waktu itu saya mengambil Jurusan Pariwisata yang menjadi salah satu pilihan kunjungan wisata kami adalah di objek wisata Tanjung Api. Kami memustuskan untuk mengambil rute jalan kaki melintasi hutan Tanjung Api. Karena kata guru saya agar  kita dapat belajar sambil berjalan. Karena di hutan tanjung api terdapat berbagai flora fauna yang langkah dan unik saat . Yakni :

Flora      :    Ketam Kenari, Monyet Hitam, Burung Maleo dan Ular. (punah)
Fauna     :    Pangi, Kayu bayam, Siuri, Palapi dll. (terancam punah).

Juga di dalam kawasan hutan Tanjung Api terdapat  Gua air. Kenapa  dinamai sebagai Gua Air sebab di dalam Gua tersebut terdapat air yang menyerupai kolam. Menjadi tempat permandian saat mencari kayu saat menjelang Pramuka. Gua ini juga  di huni oleh  Kelelawar. 

Hamparan pasir putih, nampak ketika kita tiba di Tanjung Api. Dikatakan Tanjung Api  karena terdapat api yang tidak terlihat hanya terdengar suara gas di sepanjang pantai Tanjung Api. Kita akan melihat api ketika kita melemparan kayu kering di sumber suara gas.  Di ujung pantai di antara rimbun hutan  mata air  'tawar'  orang-orang menyebutnya  "Air Malu" sebab konon bila kita mandi telanjang airnya akan surut bahkan sampai kering. 

Pada saat  pembukaan lokasi Bandara  pertama kali, banyak binatang buas seperti Ular sawah, Babi Hutan, Rusa yg keluar dari kawasan hutan Tanjung Api sampai di kampung. Sampai ke  halaman rumah. 

Cerita mistik tentang hutan Tanjung Api kerap terdengar dari mulut masyarakat. Tentang makhluk jadi-jadian yang menyerupai Kera, bahkan sampai ada masyarakat yang menceritakan jikalau ia sempat di culik berminggu-minggu dan tinggal bersama Kera di tengah hutan.
Cerita mistik dan jatuhnya korban di lokasi pembangunan bandara membuat resah penduduk. Sehingga  dibuatlah upacara adat  pemotongan sapi dan kambing di lokasi pembangunan bandara sebagai bentuk acara membangun rasa toleransi antara penghuni hutan entah yang nyata maupun yang gaib. Sebab masyarakat percaya bahwa sebagian penghuni hutan adalah makhluk gaib yang menjaga hutan dan kampung. Dan bila upacara potong Sapi tidak segera dilakukan makan korban akan terus berjatuhan dan binatang buas akan semakin berkeliaran di kampung.
Hutan semakin sedikit terlihat dari atas pesawat, ketika saat landing dari Palu.  Hutan yg dulu kami jelajahi  tak  nampak hijau  dan luas lagi. Yang nampak hanya seperti garis yang ternyata adalah pepohonan Kelapa  yang sudah tidak lagi produktif.


Hutan dan Masa Kecil

Habitat hutan Tanjung Api tak lagi asing bagi kami. Setiap hari setelah pulang dari Sekolah kami selalu bermain ke dalam hutan, mencari jambu, mencari kelapa, mengejar ayam hutan, dan mengambil tongkat kayu. 


 

[1] http://telukpalu.com/2008/05/cagar-alam-tanjung-api/

Lelaki yang Menghabiskan Waktu Bersama Buku-Buku

 
(Sumber, IG Aan Mansyur)
Hampir  di setiap saat ketika aku hendak  mengujungi perpustakaan Nemu Buku yang terletak di jalan Tururuka, selalu saja nampak seorang laki-laki muda yang selalu sibuk di depan komputer yang terdapat di sudut ruangan perpustakaan,  tidak hanya sibuk mengetik ia juga sesekali mengambil buku yang terdapat di sisi meja komputer, ditulisnya buku itu dengan menggunakan pensil, dan sesekali berdiri mengambil buku-buku yang terdapat di rak-rak buku. Ya ia sedang mendata buku. Pekerjaan yang sudah hampir empat tahun ini ia geluti.

 Namanya Muzi. Sudah hampir setahun ini aku  mengenalnya. Perkenalan kami tidak seperti kisah-kisah orang-orang pada umumnya. Seperti bertemu di jalan, di pasar, di acara pesta teman, di acara kampus, di acara pentas seni atau diperkenalkan oleh teman. Perkenalan kami bisa di bilang terlalu kekinian. Ya.. berkenalan melalui  facebook.

Bermula dari sebuah tulisan yang ia terbitkan di akun facebook yang berjudul  “4 November, Damai”. Ia menulis  tentang pandangannya mengenai agama yang tidak bisa disangkutpautkan dengan politik . Yang saat itu berita  mengenai Ahok yang di tuduh menista agama Islam menjadi berita sangat hangat viral.

Saat itu dimana-dimana tempatku beranjak pergi selalu saja membicarakan tentang Ahok, ada yang pro dan ada yang kotra kepada Ahok. Bahkan di rumah tempat kita beristirahat juga membahas persoalan Ahok. Aku, Ibu dan Bapak di meja makan, depan televisi sampai di ruang tamu, hanya membicarakan masalah Ahok. Ibu, dengan naluri keibuannya merasa sangat kasihan melihat Ahok yang di hujat habis-habisan, bahkan ibu sempat meneteskan air mata ketika persidangan Ahok yang sangat drama menangis sambil memeluk saudara angkatnya yang menggunakan hijab.

Namun lepas dari itu, ibu juga sangat menyayangkan tindakan orang-orang yang ikut menghujat Ahok tapi tidak menjalankan kewajiban sebagai umat Islam, yakni sholat lima waktu, bersedekah, bahkan ibu melihat di televisi umat muslim pendukung MUI aksi sampai berbuat kriminal saat magrib. Apakah mereka tidak sholat? Tanya ibu kesal.

Sementara Ayah, melihat sosok Ahok dengan sangat bijak, menurut ayah Ahok tidak bermaksud untuk menghina agama Islam. Ahok, dari kaca mata ayah,  melihat niat Ahok hanya sebatas untuk membuka mata masyarakat untuk tidak terikat dalam surah Al-Maidah tentang  memilih calon pemimpin. Diluar bagaimana tindakan Ahok bertindak kriminal mada masyarakat  di Kampung Duri. Menurut Ayah, kisruh Ahok dituduh menista Agama adalah bagian dari perpolitikan dan ajang cari ketenaran. 

Dunia seakan sibuk membicarakan masalah politik, diranah keluarga sampai diranah sosial, membuatku jenuh, seakan krisis air, buta aksara dan krisis cinta tak adalagi.  Merasa jenuh, hingga menolak ajakan teman untuk aksi  membela Islam. Dan saat itu tak sengaja aku membaca tulisan Muzi, yang berisikan perdebatan-perdebatan dalam kolom komentar dengan pendapat masing-masing.

Sejak saat itulah saya tertarik melirik setiap tulisan yang ia terbitkan. Bahwa masih ada anak muda yang berpikiran terbuka tentang persoalan politik dan agama. Membuka pandangan tentang bagaimana Islam sebenarnya menyelesaikan persoalan dengan cara yang bijaksana. Agama Sosialis seperti bagaimana Karl Marx dan Nabi Muhammad mengajarkan tentang sosialis masyarakat tanpa kelas.

Kemudian kami  membahas segala hal tentang dunia sosial dan literasi, meskipun saat itu aku menaruh curiga pada belio, karena beberapa pertanyaan yang menurutku sangat aneh. Semisal tentang mengapa aku memilih bekerja seorang diri sebagai seorang guru yang mengajar pada sekolah yang non formal dan entah mengapa setelah beberapa kali pembicaraan kami memutuskan untuk menjadi partner dalam kegiatan sosial. Sampai pada kedatangan Komunitas Sahabat Pulau Palu di Desa Betaua tempatku bekerja. Mengenal sosok Muzi adalah keniscayaan. Ia  telah  banyak memberikan dampak positif bagi diriku. Bisa berkenalan dengan banyak komunitas, meningkat minat baca pada diriku, minat menulis, dan berkegiatan sosial yang benar-benar sosial tanpa uang, dan hanya bermodalkan semangat. 

Darinya juga aku mengenal tentang dunia Literasi, yang sekarang ia geluti. Sejak duduk di bangku sekolah aku hanya mengetahui bahwa pendidikan itu penting, sebab itulah aku selalu rajin belajar dan tak pernah keluar dari peringkat lima besar. Dari semangat kejarlah cita-cita sampai ke negeri Cina sepertiyang selalu diutarakan Ayah, aku nekat untuk mengenyam pendidikan di Mts. Alkhairaat Pusat Palu, meskipun bagiku itu sangat sulit, karena harus berpisah dengan orang tua, saudara, meninggalkan kampung halaman dan teman-teman bermain.
             
Sebagai anak bungsu berpisah dengan keluarga adalah cobaan yang sangat besar, yang harus dilalui dengan lapang. Tinggal  bersama keluarga  yang baru di kenal, meskipun memiliki tali kekeluargaan, pun harus menambah kesabaran yang sangat. Di lilit dengan aturan-aturan rumah yang baru, serta keterbatasan untuk bergaul, menyelesaikan semua pekerjaan yang tak pernah dilakukan di rumah menambah kesabaran dan melatih mental saya untuk menjadi anak yang mandiri dan tidak manja.  

Mungkin kurang lebih sama dengan yang dirasakan Muzi, yang juga memilih berpisah dengan keluarganya sejak lepas  Sekolah Dasar. Tetapi  agak berbeda karena lepas  Mts (baca SMP) aku memilih untuk melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) di kampung halaman. Pilihan itu bukan karena tanpa alasan, karena tak ada pilihan untukku yang masih hidup dalam lingkaran budaya patriarki. Yang  saat itu kehidupanku sepenuhnya di atur oleh ayah, dan kakak lelakiku.

Sejak kuliah tak sengaja aku membaca beberapa buku tentang budaya patriarki. Aku mulai membangkang mencari jalan hidup ku sendiri, meski harus merasakan kelaparan di kos hanya untuk mencari jati diriku sendiri. Meskipun sampai sekarang tak bisa di pungkiri  aku masih terlilit dengan budaya patriarki. Semisal ketika buat status di facebook yang terus di kontrol oleh saudara. Juga di emban dengan tanggung jawab yang lahir dari budaya patriarki, meskipun ku tahu itu adalah bagian dari bentuk perhatian.

Mengenal  Muzi, membuka lebar-lebar pandangan ku tentang tanggung jawab, dan pilihan hidup. Muzi memilih untuk menghabiskan waktunya dengan menjadi relawan di dunia literasi. Tentunya sebagai anak laki-laki tertua dalam keluarga adalah tanggung jawab yang harus di emban. Tetapi menjadikan masyarakat lebih cerdas lebih berat dari tanggung jawab apapun. Dan memilih untuk menyepi di antara buku-buku adalah keniscayaan. Untuk itu saya ucapkan selamat hari raya NYEPI.

Bersekolah di Masa Pandemi

 Setalah hampir dua tahun sekolah diliburkan akibat covid, akhirnya pada  senin 30 Agustus 2021 sekolah kembali dibuka untuk wilayah Tojo Un...